Friday, April 6, 2012

Sarana Transportasi Sulawesi Selatan

  • Pete-pete
  • Bus
  • Taksi
  • Becak
  • Ojek


Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, sebelumnya bernama Bandar Udara Internasional Hasanuddin, adalah bandar udara yang terletak 30 km dari Kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan. Bandara ini dioperasikan oleh PT. Angkasa Pura I. Meskipun berstatus bandara internasional, sejak 28 Oktober 2006 hingga Juli 2008 sempat tidak ada rute internasional kecuali penerbangan haji setelah rute internasional terakhir Hasanuddin, Makassar-Singapura ditutup Garuda Indonesia karena merugi. Sebelumnya, Silk Air dan Malaysia Airlines telah terlebih dahulu menutup jalur internasional mereka ke Hasanuddin. Air Asia membuka kembali rute Makassar-Kuala Lumpur mulai 25 Juli 2008.

Bandara ini mengalami proses perluasan dan pengembangan yang dimulai tahun 2004 dan direncanakan selesai pada tahun 2009. Antara bagian dari pengembangan adalah terminal penumpang baru berkapasitas 7 juta penumpang per tahun, apron (lapangan parkir pesawat) yang berkapasitas tujuh pesawat berbadan lebar, landas pacu baru sepanjang 3.100 meter x 45 meter, serta taxiway. Pengoperasian terminal baru dimulai pada 4 Agustus 2008 dengan menggunakan landas pacu lama karena landas pacu baru masih sedang dikerjakan. Sekarang, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Sudah Mengoperasikan Apron baru, landas pacu terbaru serta 1 buah taxiway.

Maskapai Penerbangan

  •     AirAsia (Kuala Lumpur)
  •     Batavia Air (Jakarta, Jayapura, Kendari, Manokwari, Palu, Surabaya, Kendari)
  •     Dirgantara Air Service (Mamuju, Selayar, Masamba, Palopo, Toraja)
  •     Garuda Indonesia (Balikpapan, Biak, Denpasar-Bali, Jakarta, Jayapura, Manado, Singapura, Surabaya, Palu, Gorontalo, Ambon, Ternate, Jeddah*)
  •     Indonesia Air Transport (Soroako)
  •     Lion Air (Ambon, Denpasar-Bali, Gorontalo, Jakarta, Jayapura, Kendari, Manado, Palu, Surabaya)
  •     Merpati Nusantara Airlines (Balikpapan, Banjarmasin, Baubau, Biak, Jakarta, Kendari, Kupang, Mamuju, Manokwari, Merauke, Palu, Sorong, Surabaya, Timika, Ternate, Yogyakarta)
  •     Sriwijaya Air (Ambon, Gorontalo, Jakarta, Kendari, Surabaya, Palu)
  •     Trigana Air Service (Kupang, Luwuk)
  •     Expressair (Fak Fak, Jakarta, Jayapura, Kaimana, Nabire, Sorong, Tanah Merah, Ternate, Yogyakarta, Surabaya)
  •     Kartika Airlines (Jakarta, Manado, Ternate)
  •     Wings Air (Ambon, Denpasar-Bali, Gorontalo, Jakarta, Jayapura, Kendari, Manado, Palu, Surabaya, Mamuju, Bau-Bau, Kolaka)
  •     Citilink (Surabaya)
Anggota Civil Aviation Researcher Kementerian Perhubungan, Welly Wilyam Pakan, berpendapat, jika salah satunya mengalami kegagalan maka secara otomatis turut mempengaruhi yang lain. Artinya,  apabila sektor transportasi mengalami kelambatan dalam pengoperasiannya maka sektor pariwisatapun akan mengalami kelambatan dalam pertumbuhannya.
Lebih jauh ia berpendapat, Toraja, satu dari 24 kabupaten di  Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sebagai tujuan utama wisata Sulsel berkendala jarak yang cukup jauh (300 Km_Red) dari ibu kota propinsi, Makassar. Waktu yang ditempuh  dari Makassar via transportasi darat, memakan waktu sekira 8 sampai 9 jam. Tidak efisiensinya jarak tempuh untuk sampai ke daerah wisata berdampak pada keengganan wisatawan hingga mempengaruhi jumlah pelancong yang akan mengunjungi daerah ini. "Tak hanya wisatawan mancanegara, domestikpun akan berpikir dua kali untuk berkunjung kedaerah itu," jelas putra daerah Toraja Utara ini, saat memberikan pandangannya via email pada kedaiberita.com, Rabu (23/2/11) sore.
Untuk mengatasi masalah krusial dan sedari dulu menjadi 'batu sandungan' perkembangan wisata khusus daerah Toraja, Welly berpandangan,  agar setiap wisatawan yang datang ingin berkunjung ke Makassar dan ingin melanjutkan perjalanan wisatanya ke Toraja, pemerintah harus mengoptimalkan bandara Pongtiku  dan tak kalah pentingnya, menambah frekuensi penerbangan. "Hanya itu jalan keluarnya, jika ingin pariwisata maju," solusi Welly.
Namun, ia turut mengkritisi bandara itu tidak dimaksimalkan walau disadarinya bandara tersebut sulit dikembangkan karena faktor topografi  yang terkait dengan  Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), disisi lain, belum mampu 'menggoda' maskapai penerbangan melakukan Kontrak kerja sama dengan Bandara Pongtiku. "Sesegera mungkin hal Ini harus dijawab oleh pihak yang berkompeten, PR bagi Pemda setempat," himbaunya.  Berdasarkan data pemeringkatan daya saing kepariwisataan dunia versi World Economic Forum (WEF) dalam rentang waktu selama tiga tahun 2008-2010, posisi Indonesia mengalami pergerakan menanjak. Sempat turun dari posisi 80 (2008) menjadi 81 (2009), terakhir naik ke urutan 74 (2010).

Bila dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, peringkat tersebut menempati posisi ketiga setelah Singapura (10) dan Malaysia (35). Posisi ke-74 Indonesia masih lebih baik ketimbang Vietnam (80) dan Filipina (94). Swiss menempati urutan pertama dan Amerika Serikat di peringkat keenam dalam catatan WEF 2010.

Tajuk data dan fakta tentang pariwisata di Indonesia ini disarikan dari Keynote Speaker oleh Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) berjudul "Penguatan Peran PHRI dalam Membangun Daerah untuk Kemajuan Ekonomi Nasional" dalam Rapat Kerja Nasional PHRI II di Makassar, Jumat 10 Februari kemarin.

Ada 14 poin penilaian dalam pemeringkatan WEF tersebut. Masing-masing, yakni kebijakan dan peraturan; sumberdaya budaya; sumberdaya alam; daya tarik kepariwisataan; sumberdaya manusia; daya saing harga; infrastruktur ICT (information and communications technology); infrastruktur pariwisata; infrastruktur transportasi darat; infrastruktur transportasi udara; prioritas kepariwisataan; kesehatan dan kebersihan; keamanan dan keselamatan; dan keberlanjutan lingkungan.

Indikator daya saing harga; prioritas kepariwisataan; dan sumberdaya manusia menjadi faktor unggulan Indonesia. Sedangkan infrastruktur pariwisata justru masih menjadi kendala paling serius yang menghambat peningkatan kepariwisataan di negeri ini.

Ditinjau dari tren dan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia pada Januari 2009 sampai Oktober 2011, terjadi kenaikan sekira 200 ribu turis (dari awalnya kedatangan turis 450 ribu orang lebih menjadi 650 ribu lebih). Titik terendah kedatangan wisman hingga Oktober 2011 terjadi pada September 2009, yakni sebanyak kurang 500 ribu orang dan titik tertinggi kedatangan wisman selama tiga tahun terakhir pada Juli 2011 yang mencapai hampir 500 ribu orang.

Rincian pengeluaran dari wisatawan nusantara (wisnus) selama delapan tahun (2002-2010) mengalami kenaikan kendati tingkat pertumbuhannya justru menurun. Pengeluaran tertinggi diperoleh pada 2010 sebanyak Rp150,41 triliun dan terendah pada 2002 yakni Rp68,82 triliun. Angka pertumbuhan tertinggi didapatkan pada 2007 sebesar 23,52 persen dan terendah pada 2004 sebesar 1,17 persen.

Pengeluaran wisnus di antara 33 provinsi se-Indonesia, yang terbanyak diperoleh Jawa Timur dengan Rp9,548 miliar dan yang paling sedikit didapat Gorontalo sebesar Rp273 miliar. Sedangkan Bali menempati urutan kesembilan dengan perolehan Rp1,743 miliar. Sulawesi Selatan mencapai pendapatan sebesar Rp2,419 miliar dan menempati urutan keenam.

Sedangkan pengeluaran wisatawan mancanegara dalam sepuluh tahun (2000-2010) menunjukkan gambaran yang cukup menggembirakan. Kendati masih terlihat tren penurunan dari USD1.135,18 juta (pada tahun 2000) menjadi USD1.085,75 juta (2010) pengeluaran rata-rata per kunjungan. Angka pengeluaran tertinggi dicapai pada 2008 sebesar USD1.178,54 juta dan terendah pada 2002 sebesar USD893,26 juta.

Pemasukan devisa yang dihasilkan oleh pengeluaran wisman selama berkunjung ke Indonesia naik tajam dari USD5.749 juta pada 2000 menjadi USD7.603 juta pada 2010. Angka tertinggi dicapai pada 2010 dan terendah sebesar USD4.037 juta pada 2003.   

Devisa dari 20 negara asal wisman yang datang ke Indonesia, menempatkan Australia di peringkat pertama dengan USD1.172 juta, diikuti Singapura sebesar USD928 juta, dan Malaysia dengan USD864 juta. Peringkat terendah ditempati wisman asal Swiss dengan USD55 juta.


Editor: Andina Meryani
Laporan: Arpan Rachman (Okezone)

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys