Friday, April 6, 2012

Sarana Transportasi Sulawesi Selatan

  • Pete-pete
  • Bus
  • Taksi
  • Becak
  • Ojek


Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, sebelumnya bernama Bandar Udara Internasional Hasanuddin, adalah bandar udara yang terletak 30 km dari Kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan. Bandara ini dioperasikan oleh PT. Angkasa Pura I. Meskipun berstatus bandara internasional, sejak 28 Oktober 2006 hingga Juli 2008 sempat tidak ada rute internasional kecuali penerbangan haji setelah rute internasional terakhir Hasanuddin, Makassar-Singapura ditutup Garuda Indonesia karena merugi. Sebelumnya, Silk Air dan Malaysia Airlines telah terlebih dahulu menutup jalur internasional mereka ke Hasanuddin. Air Asia membuka kembali rute Makassar-Kuala Lumpur mulai 25 Juli 2008.

Bandara ini mengalami proses perluasan dan pengembangan yang dimulai tahun 2004 dan direncanakan selesai pada tahun 2009. Antara bagian dari pengembangan adalah terminal penumpang baru berkapasitas 7 juta penumpang per tahun, apron (lapangan parkir pesawat) yang berkapasitas tujuh pesawat berbadan lebar, landas pacu baru sepanjang 3.100 meter x 45 meter, serta taxiway. Pengoperasian terminal baru dimulai pada 4 Agustus 2008 dengan menggunakan landas pacu lama karena landas pacu baru masih sedang dikerjakan. Sekarang, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Sudah Mengoperasikan Apron baru, landas pacu terbaru serta 1 buah taxiway.

Maskapai Penerbangan

  •     AirAsia (Kuala Lumpur)
  •     Batavia Air (Jakarta, Jayapura, Kendari, Manokwari, Palu, Surabaya, Kendari)
  •     Dirgantara Air Service (Mamuju, Selayar, Masamba, Palopo, Toraja)
  •     Garuda Indonesia (Balikpapan, Biak, Denpasar-Bali, Jakarta, Jayapura, Manado, Singapura, Surabaya, Palu, Gorontalo, Ambon, Ternate, Jeddah*)
  •     Indonesia Air Transport (Soroako)
  •     Lion Air (Ambon, Denpasar-Bali, Gorontalo, Jakarta, Jayapura, Kendari, Manado, Palu, Surabaya)
  •     Merpati Nusantara Airlines (Balikpapan, Banjarmasin, Baubau, Biak, Jakarta, Kendari, Kupang, Mamuju, Manokwari, Merauke, Palu, Sorong, Surabaya, Timika, Ternate, Yogyakarta)
  •     Sriwijaya Air (Ambon, Gorontalo, Jakarta, Kendari, Surabaya, Palu)
  •     Trigana Air Service (Kupang, Luwuk)
  •     Expressair (Fak Fak, Jakarta, Jayapura, Kaimana, Nabire, Sorong, Tanah Merah, Ternate, Yogyakarta, Surabaya)
  •     Kartika Airlines (Jakarta, Manado, Ternate)
  •     Wings Air (Ambon, Denpasar-Bali, Gorontalo, Jakarta, Jayapura, Kendari, Manado, Palu, Surabaya, Mamuju, Bau-Bau, Kolaka)
  •     Citilink (Surabaya)
Anggota Civil Aviation Researcher Kementerian Perhubungan, Welly Wilyam Pakan, berpendapat, jika salah satunya mengalami kegagalan maka secara otomatis turut mempengaruhi yang lain. Artinya,  apabila sektor transportasi mengalami kelambatan dalam pengoperasiannya maka sektor pariwisatapun akan mengalami kelambatan dalam pertumbuhannya.
Lebih jauh ia berpendapat, Toraja, satu dari 24 kabupaten di  Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sebagai tujuan utama wisata Sulsel berkendala jarak yang cukup jauh (300 Km_Red) dari ibu kota propinsi, Makassar. Waktu yang ditempuh  dari Makassar via transportasi darat, memakan waktu sekira 8 sampai 9 jam. Tidak efisiensinya jarak tempuh untuk sampai ke daerah wisata berdampak pada keengganan wisatawan hingga mempengaruhi jumlah pelancong yang akan mengunjungi daerah ini. "Tak hanya wisatawan mancanegara, domestikpun akan berpikir dua kali untuk berkunjung kedaerah itu," jelas putra daerah Toraja Utara ini, saat memberikan pandangannya via email pada kedaiberita.com, Rabu (23/2/11) sore.
Untuk mengatasi masalah krusial dan sedari dulu menjadi 'batu sandungan' perkembangan wisata khusus daerah Toraja, Welly berpandangan,  agar setiap wisatawan yang datang ingin berkunjung ke Makassar dan ingin melanjutkan perjalanan wisatanya ke Toraja, pemerintah harus mengoptimalkan bandara Pongtiku  dan tak kalah pentingnya, menambah frekuensi penerbangan. "Hanya itu jalan keluarnya, jika ingin pariwisata maju," solusi Welly.
Namun, ia turut mengkritisi bandara itu tidak dimaksimalkan walau disadarinya bandara tersebut sulit dikembangkan karena faktor topografi  yang terkait dengan  Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), disisi lain, belum mampu 'menggoda' maskapai penerbangan melakukan Kontrak kerja sama dengan Bandara Pongtiku. "Sesegera mungkin hal Ini harus dijawab oleh pihak yang berkompeten, PR bagi Pemda setempat," himbaunya.  Berdasarkan data pemeringkatan daya saing kepariwisataan dunia versi World Economic Forum (WEF) dalam rentang waktu selama tiga tahun 2008-2010, posisi Indonesia mengalami pergerakan menanjak. Sempat turun dari posisi 80 (2008) menjadi 81 (2009), terakhir naik ke urutan 74 (2010).

Bila dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, peringkat tersebut menempati posisi ketiga setelah Singapura (10) dan Malaysia (35). Posisi ke-74 Indonesia masih lebih baik ketimbang Vietnam (80) dan Filipina (94). Swiss menempati urutan pertama dan Amerika Serikat di peringkat keenam dalam catatan WEF 2010.

Tajuk data dan fakta tentang pariwisata di Indonesia ini disarikan dari Keynote Speaker oleh Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) berjudul "Penguatan Peran PHRI dalam Membangun Daerah untuk Kemajuan Ekonomi Nasional" dalam Rapat Kerja Nasional PHRI II di Makassar, Jumat 10 Februari kemarin.

Ada 14 poin penilaian dalam pemeringkatan WEF tersebut. Masing-masing, yakni kebijakan dan peraturan; sumberdaya budaya; sumberdaya alam; daya tarik kepariwisataan; sumberdaya manusia; daya saing harga; infrastruktur ICT (information and communications technology); infrastruktur pariwisata; infrastruktur transportasi darat; infrastruktur transportasi udara; prioritas kepariwisataan; kesehatan dan kebersihan; keamanan dan keselamatan; dan keberlanjutan lingkungan.

Indikator daya saing harga; prioritas kepariwisataan; dan sumberdaya manusia menjadi faktor unggulan Indonesia. Sedangkan infrastruktur pariwisata justru masih menjadi kendala paling serius yang menghambat peningkatan kepariwisataan di negeri ini.

Ditinjau dari tren dan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia pada Januari 2009 sampai Oktober 2011, terjadi kenaikan sekira 200 ribu turis (dari awalnya kedatangan turis 450 ribu orang lebih menjadi 650 ribu lebih). Titik terendah kedatangan wisman hingga Oktober 2011 terjadi pada September 2009, yakni sebanyak kurang 500 ribu orang dan titik tertinggi kedatangan wisman selama tiga tahun terakhir pada Juli 2011 yang mencapai hampir 500 ribu orang.

Rincian pengeluaran dari wisatawan nusantara (wisnus) selama delapan tahun (2002-2010) mengalami kenaikan kendati tingkat pertumbuhannya justru menurun. Pengeluaran tertinggi diperoleh pada 2010 sebanyak Rp150,41 triliun dan terendah pada 2002 yakni Rp68,82 triliun. Angka pertumbuhan tertinggi didapatkan pada 2007 sebesar 23,52 persen dan terendah pada 2004 sebesar 1,17 persen.

Pengeluaran wisnus di antara 33 provinsi se-Indonesia, yang terbanyak diperoleh Jawa Timur dengan Rp9,548 miliar dan yang paling sedikit didapat Gorontalo sebesar Rp273 miliar. Sedangkan Bali menempati urutan kesembilan dengan perolehan Rp1,743 miliar. Sulawesi Selatan mencapai pendapatan sebesar Rp2,419 miliar dan menempati urutan keenam.

Sedangkan pengeluaran wisatawan mancanegara dalam sepuluh tahun (2000-2010) menunjukkan gambaran yang cukup menggembirakan. Kendati masih terlihat tren penurunan dari USD1.135,18 juta (pada tahun 2000) menjadi USD1.085,75 juta (2010) pengeluaran rata-rata per kunjungan. Angka pengeluaran tertinggi dicapai pada 2008 sebesar USD1.178,54 juta dan terendah pada 2002 sebesar USD893,26 juta.

Pemasukan devisa yang dihasilkan oleh pengeluaran wisman selama berkunjung ke Indonesia naik tajam dari USD5.749 juta pada 2000 menjadi USD7.603 juta pada 2010. Angka tertinggi dicapai pada 2010 dan terendah sebesar USD4.037 juta pada 2003.   

Devisa dari 20 negara asal wisman yang datang ke Indonesia, menempatkan Australia di peringkat pertama dengan USD1.172 juta, diikuti Singapura sebesar USD928 juta, dan Malaysia dengan USD864 juta. Peringkat terendah ditempati wisman asal Swiss dengan USD55 juta.


Editor: Andina Meryani
Laporan: Arpan Rachman (Okezone)

Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

Pariwisata, yang merupakan salah satu sektor potensial bagi penerimaan PAD di Sulsel, ternyata sangat mungkin dikembangkan lebih optimal lagi. Daerah Sulsel mempunyai obyek pariwisata yang beragam, baik wisata alam dengan kondisi alamnya yang bergunung-gunung berikut bentuk pantainya yang memanjang, wisata bahari, agrowisata, maupun wisata budaya, termasuk wisata sejarah yang banyak dimiliki oleh daerah ini, seperti di Tana Toraja dan Polewali Mamasa. Semuanya itu menambah keanekaragaman kekayaan obyek wisata di daerah Sulawesi Selatan ini. 

Tetapi, potensi itu hanya dapat berkembang jika digarap secara lebih profesional, sehingga memiliki daya tarik yang besar baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Untuk meningkatkan pembangunan pariwisata di Sulsel, perlu dibangun sarana dan prasarana seperti jalan raya, transportasi (darat, laut, udara); dan hotel, yang dapat mendorong pe¬ningkatan kemajuan di bidang pariwisata di daerah ini. Jika sarana dan prasarana yang baik itu sudah da¬pat disediakan, tidak tertutup kemungkinan bahwa para investor asing dan domestik akan berminat untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata dan hiburan ini. Ini artinya, potensi sektor pariwisata yang ada di Sulawesi Selatan akan berkembang secara lebih optimal.

Propinsi Sulawesi Selatan mempunyai peluang yang sangat menjanjikan untuk memperluas jaringan perdagangan dengan propinsi lain, termasuk memper¬luas jaringan ekspor dengan luar negeri, mengingat kemajuan iptek, khususnya teknologi bidang informatika dan telekomunikasi, yang sangat pesat. Selain itu, letak geografis Sulsel sangat strategis, yakni di persimpangan jalur transportasi laut internasional. Tetapi, semuanya itu kembali pada SDM dan investasi mo¬dal yang ada di daerah ini.




Alamat:
JL. Urip Sumoharjo 269
Makassar 90245
Telepon:
0411-449 979
Fax:
0411-449979
Email:
info@sulsel.go.id
Website:
www.sulsel.go.id

Sulsel Manfaatkan Transportasi Umum Untuk Promosikan Pariwisata

Makassar (ANTARA News) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan memanfaatkan 300 unit taksi dan ratusan unit bus sebagai media promosi tahun kunjungan wisata Sulsel 2012.

Peluncuran 300 unit taksi sebagai media promosi "Visit South Sulawesi 2012" dilakukan oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada pembukaan Festival Fort Rotterdam di Monumen Mandala, Makassar, Selasa.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel Syuaib Mallombassi menjelaskan, selain taksi, promosi juga dilakukan melalui ratusan unit bus antar daerah.

Ia mengatakan, promosi tersebut hasil kerja sama pihaknya dengan perusahaan transportasi yang beroperasi di Sulsel. "Ini sifatnya kerja sama sehingga tanpa menggunakan anggaran," ujarnya.

Diharapkan, dengan cara promosi ini, informasi mengenai rangkaian kegiatan tahun kunjungan pariwisata 2012 dan daerah-daerah tujuan wisata Sulsel semakin luas diketahui masyarakat. Apalagi, momen tahun kunjungan pariwisata sudah dekat.

Kerja sama promosi juga dilakukan dengan sejumlah perusahaan perjalanan wisata untuk mempromosikan paket-paket daerah tujuan wisata.

Pihaknya juga melakukan promosi dengan melibatkan institusi pendidikan yaitu Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Hutan pendidikan Bengo-bengo milik Unhas akan dikelola sebagai kawasan wisata alam dan lingkungan yang diyakini dapat menarik banyak wisatawan.

Kapal Phinisi milik Unhas juga akan dikelola oleh pihaknya menjadi kapal restoran yang akan menyusuri Pantai Barombong Kabupaten Gowa serta Pantai Losari dan perairan Pulau Lakkang, Makassar. (T.KR-RY/S016)

Pariwisata Sulawesi Selatan

Pariwisata, yang merupakan salah satu sektor potensial bagi penerimaan PAD di Sulawesi Selatan, ternyata sangat mungkin dikembangkan lebih optimal lagi. Daerah Sulawesi Selatan mempunyai obyek pariwisata yang beragam, baik wisata alam dengan kondisi alamnya yang bergunung-gunung berikut bentuk pantainya yang memanjang, wisata bahari, agrowisata, maupun wisata budaya, termasuk wisata sejarah yang banyak dimiliki oleh daerah ini, seperti di Tana Toraja dan Polewali Mamasa. Semuanya itu menambah keanekaragaman kekayaan obyek wisata di daerah Sulawesi Selatan ini.
Tetapi, potensi itu hanya dapat berkembang jika digarap secara lebih profesional, sehingga memiliki daya tarik yang besar baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Untuk meningkatkan pembangunan pariwisata di Sulawesi Selatan, perlu dibangun sarana dan prasarana seperti jalan raya, transportasi (darat, laut, udara); dan hotel, yang dapat mendorong peningkatan kemajuan di bidang pariwisata di daerah ini. Jika sarana dan prasarana yang baik itu sudah dapat disediakan, tidak tertutup kemungkinan bahwa para investor asing dan domestik akan berminat untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata dan hiburan ini. Ini artinya, potensi sektor pariwisata yang ada di Sulawesi Selatan akan berkembang secara lebih optimal.

Propinsi Sulawesi Selatan mempunyai peluang yang sangat menjanjikan untuk memperluas jaringan perdagangan dengan propinsi lain, termasuk memperluas jaringan ekspor dengan luar negeri, mengingat kemajuan iptek, khususnya teknologi bidang informatika dan telekomunikasi, yang sangat pesat. Selain itu, letak geografis Sulawesi Selatan sangat strategis, yakni di persimpangan jalur transportasi laut internasional. Tetapi, semuanya itu kembali pada SDM dan investasi modal yang ada

Daya Tarik Wisata Tanah Toraja

KapanLagi.com - Tanah Toraja, merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.

Saking begitu melekatnya image Tanah Toraja dengan bangunan rumah adatnya ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri matahari terbit itu. Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negari sakura. Sekarang di Jepang, sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan yang asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tanah Toraja hanya terletak di atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).

Masih banyak lagi daya tarik dari Tanah Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun.

Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat mengubur mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas pohon tarra yang buahnya mirip buah sukun yang biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat itu dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon itu dilubangi kemudian mayat bayi diletakkan ke dalam kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang pohon Tarra tersebut. Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian Barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.

Untuk menuju Tanah Toraja yang mengagumkan ini terdapat jalur penerbangan domestik Makassar - Tanah Toraja yang saat ini hanya sekali seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang, yang memakan waktu 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan ini membutuhkan waktu selama tujuh jam.

Event menarik di kawasan wisata ini yaitu adanya upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Selain event tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk kontainer ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. Bagaimana? Tertarik melihat keunikan wisata budaya ini?

Thursday, April 5, 2012

Tempat Wisata Baru 2012 Di Sulawesi Selatan (Taman wisata Gowa Discovery Park (GDP)

Taman wisata Gowa Discovery Park (GDP) di kawasan wisata budaya Benteng Somba Opu menjadi obyek wisata andalan baru Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2012.






Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulsel, Syuaib Mallombassi di Makassar, Selasa, mengatakan, taman wisata GDP di perbatasan Gowa dan Makassar ini merupakan salah satu objek wisata andalan pada tahun kunjungan wisata Sulsel, 2012.

Objek wisata tersebut terdiri atas taman gajah seluas, taman burung, waterboom dan treetop outbond, diyakini akan menarik dan meningkatkan wisatawan.


Selain GDP, Benteng Rotterdam di Kota Makassar yang saat ini masih dalam tahap revitalisasi juga akan menjadi primadona destinasi wisata apalagi proses pemugaran seluruh gedung di bagian dalam benteng telah selesai.

Kemudian, Salib Raksasa setinggi 33x18 meter di Tana Toraja juga akan menjadi obyek wisata religius. Nilai anggaran pembangunannya mencapai Rp10 miliar. Rp1,2 miliar diantaranya telah digunakan untuk pembangunan tahap awal.

Pelaksanaan kegiatan pariwisata tahunan "Lovely December" tahun ini di Tana Toraja juga akan dimeriahkan dengan pesta kembang api besar-besaran. Menurutnya, tingkat kunjungan wisata di Toraja didominasi oleh wisatawan asal Eropa, mencapai sekitar 30 orang per hari.

Sedikit evaluasi dari penyelenggaraan ekpedisi wisata ketiga di Pulau Takabonerate Kabupaten Selayar, ia mengatakan, daerah tujuan wisata bahari tersebut membutuhkan peningkatan infrastruktur, terutama transportasi.
"Takabonerate tantangannya infrastruktur, tanpa dukungan infrastruktur sebesar apapun anggarannya kita tidak bisa banyak berharap banyak wisatawan," katanya yang menambahkan anggaran penyelenggaraan ekspedisi tahun mencapai Rp600 juta.
Tingkat kunjungan wisatawan nusantara hingga Oktober 2011, katanya, sebanyak 3,4 juta didominasi Jakarta dan Jawa Timur. Sementara mancanegara sebanyak 36 ribu wisatawan. (T.KR-RY/B012)






source: antara

Lomba Blog "Visit Sulawesi 2012"

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan pintu destinasi yang strategis jika menilik Indonesia belahan timur yang bertabur pulau-pulau indah dan eksotik. Posisi yang sangat strategis tersebut menempatkan Sulawesi Selatan sebagai lokasi tujuan kunjungan, yang bisa mengakses semua kota-kota utama di timur. Melihat potensi ini Pemerintah Provinsi giat memilah dan memilih strategi yang pas untuk dapat memaksimalkannya, salah satunya adalah dengan mengarahkan para tamu (visitors) untuk melirik potensi wisata.
Kita tahu bahwa selain tetap mengembangkan pariwisata unggulan seperti pernik kebudayaan Tana Toraja, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga bertanggung jawab untuk memperkuat dan mengembangkan daya tarik persona wisata alam/nature lainnya, wisata sejarah, bahkan lebih spesifik pada wisata gunung, bahari (marine tourism) dan kuliner.
Sejalan dengan event “Visit South Sulawesi 2012”  Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan CV.Mandasini Putra Utama menggelar Lomba Blog dengan tema :

“Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan”

Tuliskan pendapat, masukan atau kritikan kamu tentang wisata Sulawesi Selatan, baik itu berupa potensi wisatanya, pengembangannya, kekurangannya atau masukan soal strategi promosinya.
Kegiatan ini juga menggandeng Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri dan KoshMediaTama sebagai partner.
Tema dan Ketentuan Lomba
1. Peserta adalah Blogger Indonesia, mengelola blog sendiri, dan bukan blog komunitas/blog bersama
2. Peserta menuliskan minimal 1 buah postingan blog sesuai dengan tema yang ditetapkan.
3. Tulisan dapat berupa opini, reportase, cerita pengalaman, ataupun saran dan masukan mengenai potensi pariwisata di Sulawesi Selatan.
4. Panjang tulisan minimal 750 kata.
5. Memasang banner lomba pada tulisan.
6. Url postingan didaftarkan melalui form pendaftaran.
7. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun sebelumnya, atau diikutkan dalam lomba sejenis.
8. Tulisan harus sesuai dengan norma-norma masyarakat dan tidak menyinggung SARA, pornografi, sadisme dan sarkasme.
9. Pelaksana dan penyelenggara berhak mendiskualifikasi setiap materi lomba yang diikutsertakan, sebelum, selama, dan sesudah penjurian dilakukan apabila materi yang diikutsertakan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
10. Dengan keikutsertaan, peserta dianggap telah menerima dan menyetujui seluruh persyaratan yang ditetapkan dalam ketentuan lomba ini.
11. Dewan juri dan anggota keluarganya tidak diperkenankan mengikuti lomba.
12. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
13. Lomba ini murni lomba postingan, bukan SEO atau mini SEO
Hadiah-hadiah
1.    Pemenang I : Rp. 5.000.000,-
2.    Pemenang II : Rp. 4.000.000,-
3.    Pemenang III : Rp. 3.000.000,-
4.    Lima tulisan favorit : @Rp. 1,000,000,-
Dewan Juri
1.    Andi Amiruddin Pallawarukka (Wartawan Harian Tribun Timur Makassar)
2.    Sunarti Sain (Wartawan Harian Fajar, Makassar)
3.    iPul dg. Gassing  (Ketua Komunitas Blogger Anging Mammiri)
Kriteria Penilaian
1.    Orisinalitas Ide
2.    Kesesuaian Tema
3.    Ruang lingkup/perspektif tulisan
4.    Teknik Penyajian dan kesesuaian template blog
5.    Kesesuaian dengan perspektif promosi Online
Banner Lomba
Banner Lomba
<a href=”http://southsulawesitourism.com”><img src=”http://southsulawesitourism.com/wp-content/uploads/2012/03/banner-south-sulawesi-tourism-3.png”></a>

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys